21 November, 2014
17 Oktober, 2013
catatan untuk yang menanti hujan
ada hal-hal yang tidak bisa saya ucapkan secara verbal, hanya mampir di ujung lidah tak mampu tuk mengucap....
jika saya tak lagi berjumpa hari, hal yang ingin sekali saya utarakan adalah...Terimakasih....
atas waktu
atas hadirmu
atas harimu
karena di ujung perpisahan hal yang tak terucap adalah terimakasih....
jika saya tak lagi bertemu hari, mungkin saya akan bersembunyi di hujan dengan harap berjumpa denganmu...dengan kamu yang selalu menanti hujan.
jika saya tak lagi berjumpa hari, hal yang ingin sekali saya utarakan adalah...Terimakasih....
atas waktu
atas hadirmu
atas harimu
karena di ujung perpisahan hal yang tak terucap adalah terimakasih....
jika saya tak lagi bertemu hari, mungkin saya akan bersembunyi di hujan dengan harap berjumpa denganmu...dengan kamu yang selalu menanti hujan.
31 Desember, 2012
jalan berlubang
banyak lubang di jalan, dan saya harus menghindari jalan berlubang itu....
banyak lubang di jalan lubang yang menganga dan digenangi air curahan hujan semalam....
kehilangan itu seperti lubang di jalan sunyi; ada kenangan yang menggenang
saya selalu melewati jalan berlubang itu, sama ketika saya selalu terdiam didepan genangan kenangan
banyak lubang di jalan lubang yang menganga dan digenangi air curahan hujan semalam....
kehilangan itu seperti lubang di jalan sunyi; ada kenangan yang menggenang
saya selalu melewati jalan berlubang itu, sama ketika saya selalu terdiam didepan genangan kenangan
29 Desember, 2012
untuk kamu
hujan pun reda, lalu saya pun menjelma menjadi purnama hanya untuk melihatmu dari kejauhan...aaahh jarak....
tanyakan saja "sampai kapan aku mampu mencintaimu?"
dengarlah baik-baik jawabku, "sampai besok!"
dan jawaban itu akan saya ulang disetiap pergantian hari...setiap hari....
18 Desember, 2012
duduk saja disampingku
hai, apa kabarmu ?
ahhh terlalu basa-basi, terlalu biasa...
pertanyaan itu terlalu biasa, pastinya kabarmu baik-baik saja, meskipun mungkin tidak tapi seperti yang saya kenal kamu pasti membuatnya baik-baik saja.
lalu bagaimana cara yang tidak biasa untuk menyapamu?
hari ini hujan turun lagi, dan tidak ada senja di langit, apa senja sudah habis?
oh mungkin senja sembunyi karena mungkin mau menyapamu dulu
masih ingatkah kamu untuk membawakan aku senja? tenang saja saya masih menunggu
masih menunggu senja itu, tapi jangan sampai kamu mencurinya dari langit, nanti kamu seperti Sukab yang dikejar-kejar dan nanti kamu dipukul orang-orang, sakit dan saya tidak mau sakit
hari ini hanya mendung saja,
dan saya menikmati rintiknya dari balik jendela ruang kantor saya yang sepertinya lebih pantas disebut gudang, banyak barang galeri dan apakah saya sudah pernah mengatakan bahwa saya sudah melukismu, melukis bayangmu dan menggantungnya didinding agar setiap saat saya bisa melihatmu?
hanya dengan cara itu saya bisa mengenangmu
hari ini mendung dan tidak ada senja....
ada hal yang ingin sekali aku lakukan bersamamu....
duduk dan menikmati senja...
bisakah kita hanya duduk berdua saja? meski dalam hening, dalam sunyi tanpa takut untuk merasa kehilangan?
ahhh terlalu basa-basi, terlalu biasa...
pertanyaan itu terlalu biasa, pastinya kabarmu baik-baik saja, meskipun mungkin tidak tapi seperti yang saya kenal kamu pasti membuatnya baik-baik saja.
lalu bagaimana cara yang tidak biasa untuk menyapamu?
hari ini hujan turun lagi, dan tidak ada senja di langit, apa senja sudah habis?
oh mungkin senja sembunyi karena mungkin mau menyapamu dulu
masih ingatkah kamu untuk membawakan aku senja? tenang saja saya masih menunggu
masih menunggu senja itu, tapi jangan sampai kamu mencurinya dari langit, nanti kamu seperti Sukab yang dikejar-kejar dan nanti kamu dipukul orang-orang, sakit dan saya tidak mau sakit
hari ini hanya mendung saja,
dan saya menikmati rintiknya dari balik jendela ruang kantor saya yang sepertinya lebih pantas disebut gudang, banyak barang galeri dan apakah saya sudah pernah mengatakan bahwa saya sudah melukismu, melukis bayangmu dan menggantungnya didinding agar setiap saat saya bisa melihatmu?
hanya dengan cara itu saya bisa mengenangmu
hari ini mendung dan tidak ada senja....
ada hal yang ingin sekali aku lakukan bersamamu....
duduk dan menikmati senja...
bisakah kita hanya duduk berdua saja? meski dalam hening, dalam sunyi tanpa takut untuk merasa kehilangan?
16 Desember, 2012
langit yang merindu bumi
langit yang berjarak dengan bumi,
seperti langit yang merindu bumi, maka hujan pun turun sebagai sapaan...dan rindu itu pun mengalir mengisi tanah retak...dan langit, hanya rindu pada bumi.....
untuk karang,
26 November, 2012
mencemburui......kamu
seharusnya saya mencemburui waktu, atas kuasa dan arogansinya yang terus berputar dan meninggalkan saya tenggelam dalam lumpur kenangan
saya sudah berteriak, memohon pada waktu agar berhenti tapi liat yang ada hanya waktu yang congkak..
inginnya saya mencumbumu, tapi saya hanya mampu mencemburuimu....
saya sudah berteriak, memohon pada waktu agar berhenti tapi liat yang ada hanya waktu yang congkak..
inginnya saya mencumbumu, tapi saya hanya mampu mencemburuimu....
23 November, 2012
belum selesai....
saya pernah berkata.....
"kamu adalah puisi yang belum selesai, saya akan mengumpulkan semua kata untuk merangkumnya menjadi dirimu yang utuh..menjadi sebuah puisi KAMU"
dan kita, belum selesai....
saya kehilangan KITA...aahh bukan saya tidak kehilangan KITA....hanya saja saya dan kamu berdiri disebuah koma...jadi setelah ada koma maka akan ada jeda-spasi itu yang disebut....
belum selesai,
saya tidak akan menaruh titik di akhir kalimat...sudah saya curi dari tanda baca dan saya buang....
meski titik datang lagi, toh saya bisa pindah ke paragraf selanjutnya...
jadi belum selesai...KITA masih belum selesai.....
"kamu adalah puisi yang belum selesai, saya akan mengumpulkan semua kata untuk merangkumnya menjadi dirimu yang utuh..menjadi sebuah puisi KAMU"
dan kita, belum selesai....
saya kehilangan KITA...aahh bukan saya tidak kehilangan KITA....hanya saja saya dan kamu berdiri disebuah koma...jadi setelah ada koma maka akan ada jeda-spasi itu yang disebut....
belum selesai,
saya tidak akan menaruh titik di akhir kalimat...sudah saya curi dari tanda baca dan saya buang....
meski titik datang lagi, toh saya bisa pindah ke paragraf selanjutnya...
jadi belum selesai...KITA masih belum selesai.....
12 November, 2012
untuk karang, untuk layang-layang
saya memilih untuk menjadi daun kering daripada harus berjarak denganmu
dan bagi saya lebih baik tenggelam dalam sunyi daripada harus bermimpi
untuk karang, apa kabarmu di samudra
saya melihat lagi ke langit, betapa tinggi layang-layang itu
tenang, sebentar lagi talinya akan kutarik dan kupegang sehingga saya bisa mendekap layang-layang itu
menjadi daun yang kering
tenggelam dalam sunyi
dan bagi saya lebih baik tenggelam dalam sunyi daripada harus bermimpi
untuk karang, apa kabarmu di samudra
saya melihat lagi ke langit, betapa tinggi layang-layang itu
tenang, sebentar lagi talinya akan kutarik dan kupegang sehingga saya bisa mendekap layang-layang itu
menjadi daun yang kering
tenggelam dalam sunyi
Label:
puisi. 2012
06 November, 2012
kepada karang
ingin rasanya menyapamu,
tak ada senja di langit sore ini, mungkin seperti katamu senja sudah habis, habis dicecap oleh mereka
bagi saya mungkin senja sudah habis dimakan rayap-rayap
hey karang, ingin sekali menyapamu
sekedar untuk bertanya apa kabarmu?
tak ada senja di langit sore ini, mungkin seperti katamu senja sudah habis, habis dicecap oleh mereka
bagi saya mungkin senja sudah habis dimakan rayap-rayap
hey karang, ingin sekali menyapamu
sekedar untuk bertanya apa kabarmu?
05 November, 2012
ruangan......
entah harus dimulai darimana membersihkan kekacauan kemarin
badai datang menghantam pondokku, aku pikir semua akan baik-baik saja ternyata badai terlalu tangguh untuk dilawan...
harus dimulai darimana membersihkan ruangan ini?
mereka berkata "mulailah dari tempat tidurmu agar kau bisa terlelap dengan nyenyak"
bagaimana bisa aku memulai merapikan tempat tidur, disitu terlalu banyak cerita, cerita yang aku bisikkan saat kata tak mampu menjangkaunya, dan aku belum ingin ceritanya selesai
mereka lalu berkata lagi "temboknya harus kau cat lagi agar ruangan ini bisa bersinar lagi"
aku lalu melihat tembok-temboknya, memang retak, dan catnya terkelupas, tapi ditembok itu ada coretan-coretan lukisan yang aku buat dengan bisik harap yang tak pernah sampai padanya...dan saya melukisnya berharap bisa sampai padanya kelak "aku tidak ingin mengganti catnya..." kataku
"mulailah dari lantainya kalau begitu" kata mereka dengan nada putus asa
lantainya, dilantai itu ada jejak-jejak waktu yang aku habiskan menantinya, ada bekas-bekas tapak kaki saat aku gelisah saat tak bisa menjangkaunya, ada bekas loncatan saat dia mengirim tanda bahwa kita akan baik-baik saja.
bagaimana bisa aku mengganti lantainya, terlalu banyak yang terukir dan butuh waktu untuk menggantinya...
"aku tidak bisa menemukan lantai pengganti yang cocok untuk ruangan ini" kataku
.....aku hanya tidak tahu harus memulai darimana, terlalu berantakan....apakah aku harus benar-benar merobohkan pondokku?
aku hanya butuh udara segar...............
badai datang menghantam pondokku, aku pikir semua akan baik-baik saja ternyata badai terlalu tangguh untuk dilawan...
harus dimulai darimana membersihkan ruangan ini?
mereka berkata "mulailah dari tempat tidurmu agar kau bisa terlelap dengan nyenyak"
bagaimana bisa aku memulai merapikan tempat tidur, disitu terlalu banyak cerita, cerita yang aku bisikkan saat kata tak mampu menjangkaunya, dan aku belum ingin ceritanya selesai
mereka lalu berkata lagi "temboknya harus kau cat lagi agar ruangan ini bisa bersinar lagi"
aku lalu melihat tembok-temboknya, memang retak, dan catnya terkelupas, tapi ditembok itu ada coretan-coretan lukisan yang aku buat dengan bisik harap yang tak pernah sampai padanya...dan saya melukisnya berharap bisa sampai padanya kelak "aku tidak ingin mengganti catnya..." kataku
"mulailah dari lantainya kalau begitu" kata mereka dengan nada putus asa
lantainya, dilantai itu ada jejak-jejak waktu yang aku habiskan menantinya, ada bekas-bekas tapak kaki saat aku gelisah saat tak bisa menjangkaunya, ada bekas loncatan saat dia mengirim tanda bahwa kita akan baik-baik saja.
bagaimana bisa aku mengganti lantainya, terlalu banyak yang terukir dan butuh waktu untuk menggantinya...
"aku tidak bisa menemukan lantai pengganti yang cocok untuk ruangan ini" kataku
.....aku hanya tidak tahu harus memulai darimana, terlalu berantakan....apakah aku harus benar-benar merobohkan pondokku?
aku teringat dia masih membawa kunci yang kuberikan padanya, dia berkata bahwa dia masih menyimpannya, kalau begitu aku tidak akan melakukan perubahan apapun pada ruangan ini, dia akan kembali dan aku ingin dia masih mengenali ruanganku ini, aku takut saat dia kembali dia tidak mengenali ruangan ini lagilalu aku pun menutup pintu ruanganku, aku yakin dia akan kembali, suatu saat akan kembali dan membuka pintu ruangan ini dengan kunci yang aku berikan...
aku hanya butuh udara segar...............
yang pergi....
“We each have a special something we can get only at a special time of our life. like a small flame. A careful, fortunate few cherish that flame, nurture it, hold it as a torch to light their way. But once that flame goes out, it’s gone forever.” (Sputnik Sweetheart_Haruki Murakami)ini sudah 28 jam sejak dia pergi, memutuskan pergi....saya masih butuh plester lebih banyak dari yang saya bayangkan...ternyata goresannya lebih dalam.
ini sudah 28 jam lebih beberapa menit sejak dia memutuskan pergi, besok saya akan mencoba bangun, meski mungkin belum mampu melangkah, saya butuh perban untuk membebat luka....
ini sudah 28 jam lebih beberapa menit......
di kaki langit
kaki langit berpijak pada bumi
dan langit terbentang luas seolah tak ada jeda diantaranya.....
layang-layang...
terbang bebas...talinya sudah terulur sudah sampai di ujung
di kaki langit, ada aku wahai layang-layang
jangan koyak, jangan terhempas, karena aku ada di kaki langit
dan langit terbentang luas seolah tak ada jeda diantaranya.....
layang-layang...
terbang bebas...talinya sudah terulur sudah sampai di ujung
di kaki langit, ada aku wahai layang-layang
jangan koyak, jangan terhempas, karena aku ada di kaki langit
04 November, 2012
yang sederhana
aku meminta pada Tuhan untuk memberikan aku yang sederhana saja
yang sederhana saja ya Tuhan.....hanya yang sederhana
dan Tuhan memberikanku karang......
yang sederhana saja ya Tuhan.....hanya yang sederhana
dan Tuhan memberikanku karang......
Label:
puisi. 2012
31 Oktober, 2012
akhir-akhir ini hujan
...dan musim hujan pun datang...
bau tanah
basah
langit abu-abu
musim hujan datang, mengetuk jendela kamarku,
sepertinya ada kabar yang ingin disampaikan padaku
kenapa hujan kali ini berjarak?
akhir-akhir ini hujan
menjebakku untuk duduk diam dan membalas sapa rintiknya
"waktu begitu mahal, nikmatilah keterdiaman dan kebisuan ini"
....akhir-akhir ini hujan, seringnya aku mengumpat karena hujan tak memberi kabar
mungkin aku saja yang tak peka jika langit berwarna abu-abu sekarang
dikala hujan menjebakku,
itu adalah jebakan yang menyenangkan
29 Oktober, 2012
jangan cemburu....
"jangan cemburu" katamu pada suatu sore saat aku sedang menikmati langit abu-abu
"tidak ada merah di langit sore ini" kataku
"jangan cemburu....kau tau aku, jangan cemburui aku" katamu sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam
aku pun tertawa, "untuk apa mencumburui dirimu?" tanyaku
"aku pikir kamu cemburu, akhir-akhir ini kamu seringnya diam" jawabmu
aku pun terdiam, seringnya diam akhir-akhir ini....
"satu-satunya yang harus aku cemburui adalah waktu, waktu yang kau miliki utuh dan waktu yang memiliki dia sepenuhnya"
kau menghembuskan asap rokok, dan imajiku melayang seolah asap itu menyedotku dan membawaku pergi menemui dia, matahari yang ada di timur....
"dia......apa aku sepatutnya cemburu padamu?" tanyamu
"untuk apa?" tanyaku sambil mempermainkan asap rokok yang kau hembuskan
"untuk memikirkan dia yang bahkan mungkin tak menyimpanmu dalam pikirannya, tidak seperti aku"
tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam kepalaku, lalu ada lubang gelap menganga dalam jiwaku....aku merasa kosong
"mungkin.....karena waktu memiliki dirinya, dan dia pun begitu menikmati kisah lalu, tak ada aku sebagai kini"
lalu aku pun menutup mukaku menggunakan kedua tanganku, ingin rasanya saat itu berteriak, agar rantai ragu ini bisa lepas...kau menarik tanganku dan menatap wajahku
"mari bersamaku, aku bisa memberikanmu segalanya, aku akan memberikanmu seribu potret diri untuk mengabadikanmu, aku akan bercerita padamu tentang Rama-Sinta dan memberi akhir yang kau harapkan" katamu
aku tertawa
"aku hanya ingin dia, matahari yang berada di timur, bisakah kau berikan dia padaku?" tanyaku
"kau ini, buang-buang waktu saja menanti dia yang kelak saat dia kembali lupa pada dirimu" ujarmu dengan mata merah
"kita begini saja, dengan cara ini aku bisa menghisap kehidupanmu, selayaknya lintah, kita begini saja, karena kita memiliki malam, jangan meminta lebih" ujarku yang ingin sekali menggenggam tanganmu, tapi aku takut semua unsur-unsur kehidupannku mati...padam, saat menggenggam tanganmu.
"begini saja? jika itu yang kau inginkan..." katamu sambil mengalihkan pandangan
"jangan cemburu..." ujarmu
jika aku pun harus cemburu akan kucemburui waktu, waktu yang menahan dan tertahan, waktu yang kau miliki untuk hidup...
jika aku harus cemburu aku akan cemburu pada dia, matahari di timur, akan kucemburui dia yang masih lelap dalam lalu.....
"hujan....." kataku sambil berdiri...
tanganku pun terulur, basah saat hujan turun....
matahari, apa kau menitipkan sesuatu yang kutunggu di rinai hujan ini?
apa hujan ini datang dari kotamu?
apa ada pesan darimu?
"kau sedang apa?" tanyamu
"mencari sesuatu dibalik rinai hujan ini, mungkin matahariku di timur menitipkan sesuatu" jawabku
"bodoh kau, sejak kapan matahari dan hujan bersahabat?"
aku tersenyum, hujan pun lewat sudah, hanya sebentar dia mampir menyapa, tak ada titipan yang aku dapatkan, mungkin aku melewatkan satu atau lebih rinai yang tak sempat aku sibak rintiknya....
aaahh.......aku menarik napas....semoga hujan berikutnya datang dengan pesan dari matahariku di timur...
"aku mau pulang, sudah reda, sudah ramai jalanan" ujarku
"kapan kita akan bertemu?" tanyamu
"di awal bulan november ini akan ada perayaan di simpang malam, datanglah, seperti biasa kita akan merayakan kebisuan di tengah riuh orang yang kita kenal" jawabku
"apa kau akan datang?" tanyamu lagi
"tentu saja, aku tuan rumah yang mengundangmu" jawabku
"kalo begitu kita tidak akan memiliki kesempatan untuk sekedar bersembunyi dan saling menyapa?" tanyamu dengan raut muka khawatir
"tidak, kali ini aku yang akan menyapamu, aku akan berdiri ditengah-tengah cahaya dan aku akan mendapatimu, sorot matamu yang akan aku temui dan memanduku menyapamu, dengan cara itu tak ada yang tahu pertemuan kita, datanglah di simpang malam.." jawabku sambil bergegas pergi....
Aku cemburu......dan rasa ini sesak melesak ke dada.....
"tidak ada merah di langit sore ini" kataku
"jangan cemburu....kau tau aku, jangan cemburui aku" katamu sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam
aku pun tertawa, "untuk apa mencumburui dirimu?" tanyaku
"aku pikir kamu cemburu, akhir-akhir ini kamu seringnya diam" jawabmu
aku pun terdiam, seringnya diam akhir-akhir ini....
"satu-satunya yang harus aku cemburui adalah waktu, waktu yang kau miliki utuh dan waktu yang memiliki dia sepenuhnya"
kau menghembuskan asap rokok, dan imajiku melayang seolah asap itu menyedotku dan membawaku pergi menemui dia, matahari yang ada di timur....
"dia......apa aku sepatutnya cemburu padamu?" tanyamu
"untuk apa?" tanyaku sambil mempermainkan asap rokok yang kau hembuskan
"untuk memikirkan dia yang bahkan mungkin tak menyimpanmu dalam pikirannya, tidak seperti aku"
tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam kepalaku, lalu ada lubang gelap menganga dalam jiwaku....aku merasa kosong
"mungkin.....karena waktu memiliki dirinya, dan dia pun begitu menikmati kisah lalu, tak ada aku sebagai kini"
lalu aku pun menutup mukaku menggunakan kedua tanganku, ingin rasanya saat itu berteriak, agar rantai ragu ini bisa lepas...kau menarik tanganku dan menatap wajahku
"mari bersamaku, aku bisa memberikanmu segalanya, aku akan memberikanmu seribu potret diri untuk mengabadikanmu, aku akan bercerita padamu tentang Rama-Sinta dan memberi akhir yang kau harapkan" katamu
aku tertawa
"aku hanya ingin dia, matahari yang berada di timur, bisakah kau berikan dia padaku?" tanyaku
"kau ini, buang-buang waktu saja menanti dia yang kelak saat dia kembali lupa pada dirimu" ujarmu dengan mata merah
"kita begini saja, dengan cara ini aku bisa menghisap kehidupanmu, selayaknya lintah, kita begini saja, karena kita memiliki malam, jangan meminta lebih" ujarku yang ingin sekali menggenggam tanganmu, tapi aku takut semua unsur-unsur kehidupannku mati...padam, saat menggenggam tanganmu.
"begini saja? jika itu yang kau inginkan..." katamu sambil mengalihkan pandangan
"jangan cemburu..." ujarmu
jika aku pun harus cemburu akan kucemburui waktu, waktu yang menahan dan tertahan, waktu yang kau miliki untuk hidup...
jika aku harus cemburu aku akan cemburu pada dia, matahari di timur, akan kucemburui dia yang masih lelap dalam lalu.....
"hujan....." kataku sambil berdiri...
tanganku pun terulur, basah saat hujan turun....
matahari, apa kau menitipkan sesuatu yang kutunggu di rinai hujan ini?
apa hujan ini datang dari kotamu?
apa ada pesan darimu?
"kau sedang apa?" tanyamu
"mencari sesuatu dibalik rinai hujan ini, mungkin matahariku di timur menitipkan sesuatu" jawabku
"bodoh kau, sejak kapan matahari dan hujan bersahabat?"
aku tersenyum, hujan pun lewat sudah, hanya sebentar dia mampir menyapa, tak ada titipan yang aku dapatkan, mungkin aku melewatkan satu atau lebih rinai yang tak sempat aku sibak rintiknya....
aaahh.......aku menarik napas....semoga hujan berikutnya datang dengan pesan dari matahariku di timur...
"aku mau pulang, sudah reda, sudah ramai jalanan" ujarku
"kapan kita akan bertemu?" tanyamu
"di awal bulan november ini akan ada perayaan di simpang malam, datanglah, seperti biasa kita akan merayakan kebisuan di tengah riuh orang yang kita kenal" jawabku
"apa kau akan datang?" tanyamu lagi
"tentu saja, aku tuan rumah yang mengundangmu" jawabku
"kalo begitu kita tidak akan memiliki kesempatan untuk sekedar bersembunyi dan saling menyapa?" tanyamu dengan raut muka khawatir
"tidak, kali ini aku yang akan menyapamu, aku akan berdiri ditengah-tengah cahaya dan aku akan mendapatimu, sorot matamu yang akan aku temui dan memanduku menyapamu, dengan cara itu tak ada yang tahu pertemuan kita, datanglah di simpang malam.." jawabku sambil bergegas pergi....
Aku cemburu......dan rasa ini sesak melesak ke dada.....
28 Oktober, 2012
menanti pulang
untuk yang berteduh di timur,
sudah hampir waktunya...
ribuan detik sudah kita tapaki dalam jeda
sudah belajar pada hujan tentang jatuh
pada angin tentang jarak tempuh *
sudah hampir tiba waktunya....
ada saya berdiri di ujung hari
menantimu pulang
sudah hampir waktunya...
ribuan detik sudah kita tapaki dalam jeda
sudah belajar pada hujan tentang jatuh
pada angin tentang jarak tempuh *
sudah hampir tiba waktunya....
ada saya berdiri di ujung hari
menantimu pulang
22 Oktober, 2012
bermula..permulaan...
....masih ada yang tersisa dari ruang ini yang mulai kosong....
retakannya kian melebar, menjalar bagai pembuluh darah...tunggu semoga tidak pecah
semua bermula dari...
sebuah kedatangan seperti air bah...banjir dan sekarang sudah surut
permulaan.....
apa ini yang disebut mula-mula?
Tuhan mulanya menciptakan cahaya dalam kegelapan, mengumpulkan debu-debu atmosfir menjadi dunia lalu meledaklah jadi tata surya
Tuhan mulanya menciptakan Adam dan Hawa
semua bermula dari sebuah pertemuan....dan tunggu semoga tidak ada kata sampai jumpa
retakannya kian melebar, menjalar bagai pembuluh darah...tunggu semoga tidak pecah
semua bermula dari...
sebuah kedatangan seperti air bah...banjir dan sekarang sudah surut
permulaan.....
apa ini yang disebut mula-mula?
Tuhan mulanya menciptakan cahaya dalam kegelapan, mengumpulkan debu-debu atmosfir menjadi dunia lalu meledaklah jadi tata surya
Tuhan mulanya menciptakan Adam dan Hawa
semua bermula dari sebuah pertemuan....dan tunggu semoga tidak ada kata sampai jumpa
Label:
2012,
puisi fiksi
16 Oktober, 2012
di simpang malam
kemarin, Pencerita datang lagi, setelah sekian lama kami tak saling bercerita
dia bertanya apa kabarku? dan aku menjawab tidak ada yang berubah...masih sama, tetap berdiri
dia lalu memintaku datang besok di simpang malam, di tempat yang penuh oleh punggung-punggung yang kita kenal, dan hanya di simpang malam itu kami dapat bertemu
kemarin dia memintaku datang, kemarin itu berarti malam ini
tunggu aku akan datang dan menikmati tajamnya matamu....
dan aku pun datang menemuinya, diantara punggung-punggung yang kami kenal, diantara jabat tangan erat, diantara bising suara kami beradu pandang.....gelap menutupinya, dan semoga tidak ada yang liat kilat rindu diantara peraduan kami...
di simpang malam,
sang pencerita datang menghampiri dan kami pun berpisah kembali kejalan...kembali kekesepian...
Label:
puisi. 2012
08 Oktober, 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
