Tampilkan postingan dengan label 2012. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2012. Tampilkan semua postingan

31 Desember, 2012

jalan berlubang

banyak lubang di jalan, dan saya harus menghindari jalan berlubang itu....
banyak lubang di jalan lubang yang menganga dan digenangi air curahan hujan semalam....

kehilangan itu seperti lubang di jalan sunyi; ada kenangan yang menggenang

saya selalu melewati jalan berlubang itu, sama ketika saya selalu terdiam didepan genangan kenangan


29 Desember, 2012

untuk kamu


hujan pun reda, lalu saya pun menjelma menjadi purnama hanya untuk melihatmu dari kejauhan...aaahh jarak....

tanyakan saja "sampai kapan aku mampu mencintaimu?" 
dengarlah baik-baik jawabku, "sampai besok!" 
dan jawaban itu akan saya ulang disetiap pergantian hari...setiap hari....

18 Desember, 2012

duduk saja disampingku

hai, apa kabarmu ? 

ahhh terlalu basa-basi, terlalu biasa...
pertanyaan itu terlalu biasa, pastinya kabarmu baik-baik saja, meskipun mungkin tidak tapi seperti yang saya kenal kamu pasti membuatnya baik-baik saja.

lalu bagaimana cara yang tidak biasa untuk menyapamu?

hari ini hujan turun lagi, dan tidak ada senja di langit, apa senja sudah habis?
oh mungkin senja sembunyi karena mungkin mau menyapamu dulu
masih ingatkah kamu untuk membawakan aku senja? tenang saja saya masih menunggu
masih menunggu senja itu, tapi jangan sampai kamu mencurinya dari langit, nanti kamu seperti Sukab yang dikejar-kejar dan nanti kamu dipukul orang-orang, sakit dan saya tidak mau sakit

hari ini hanya mendung saja,
dan saya menikmati rintiknya dari balik jendela ruang kantor saya yang sepertinya lebih pantas disebut gudang, banyak barang galeri dan apakah saya sudah pernah mengatakan bahwa saya sudah melukismu, melukis bayangmu dan menggantungnya didinding agar setiap saat saya bisa melihatmu?

hanya dengan cara itu saya bisa mengenangmu

hari ini mendung dan tidak ada senja....
ada hal yang ingin sekali aku lakukan bersamamu....
duduk dan menikmati senja...

bisakah kita hanya duduk berdua saja? meski dalam hening, dalam sunyi tanpa takut untuk merasa kehilangan?

 

16 Desember, 2012

langit yang merindu bumi

langit yang berjarak dengan bumi, 
seperti langit yang merindu bumi, maka hujan pun turun sebagai sapaan...dan rindu itu pun mengalir mengisi tanah retak...
 dan langit, hanya rindu pada bumi.....

untuk karang, 

26 November, 2012

mencemburui......kamu

seharusnya saya mencemburui waktu, atas kuasa dan arogansinya yang terus berputar dan meninggalkan saya tenggelam dalam lumpur kenangan
saya sudah berteriak, memohon pada waktu agar berhenti tapi liat yang ada hanya waktu yang congkak..

inginnya saya mencumbumu, tapi saya hanya mampu mencemburuimu....

23 November, 2012

belum selesai....

saya pernah berkata.....
"kamu adalah puisi yang belum selesai, saya akan mengumpulkan semua kata untuk merangkumnya menjadi dirimu yang utuh..menjadi sebuah puisi KAMU"

dan kita, belum selesai....
saya kehilangan KITA...aahh bukan saya tidak kehilangan KITA....hanya saja saya dan kamu berdiri disebuah koma...jadi setelah ada koma maka akan ada jeda-spasi itu yang disebut....

belum selesai,
saya tidak akan menaruh titik di akhir kalimat...sudah saya curi dari tanda baca dan saya buang....
meski titik datang lagi, toh saya bisa pindah ke paragraf selanjutnya...

jadi belum selesai...KITA masih belum selesai.....

06 November, 2012

kepada karang

ingin rasanya menyapamu,
tak ada senja di langit sore ini, mungkin seperti katamu senja sudah habis, habis dicecap oleh mereka
bagi saya mungkin senja sudah habis dimakan rayap-rayap

hey karang, ingin sekali menyapamu
sekedar untuk bertanya apa kabarmu?

05 November, 2012

ruangan......

entah harus dimulai darimana membersihkan kekacauan kemarin
badai datang menghantam pondokku, aku pikir semua akan baik-baik saja ternyata badai terlalu tangguh untuk dilawan...

harus dimulai darimana membersihkan ruangan ini?
mereka berkata "mulailah dari tempat tidurmu agar kau bisa terlelap dengan nyenyak"

bagaimana bisa aku memulai merapikan tempat tidur, disitu terlalu banyak cerita,  cerita yang aku bisikkan saat kata tak mampu menjangkaunya, dan aku belum ingin ceritanya selesai

mereka lalu berkata lagi "temboknya harus kau cat lagi agar ruangan ini bisa bersinar lagi"

aku lalu melihat tembok-temboknya, memang retak, dan catnya terkelupas, tapi ditembok itu ada coretan-coretan lukisan yang aku buat dengan bisik harap yang tak pernah sampai padanya...dan saya melukisnya berharap bisa sampai padanya kelak "aku tidak ingin mengganti catnya..." kataku

"mulailah dari lantainya kalau begitu" kata mereka dengan nada putus asa

lantainya, dilantai itu ada jejak-jejak waktu yang aku habiskan menantinya, ada bekas-bekas tapak kaki saat aku gelisah saat tak bisa menjangkaunya, ada bekas loncatan saat dia mengirim tanda bahwa kita akan baik-baik saja.
bagaimana bisa aku mengganti lantainya, terlalu banyak yang terukir dan butuh waktu untuk menggantinya...

"aku tidak bisa menemukan lantai pengganti yang cocok untuk ruangan ini" kataku

.....aku hanya tidak tahu harus memulai darimana, terlalu berantakan....apakah aku harus benar-benar merobohkan pondokku?
aku teringat dia masih membawa kunci yang kuberikan padanya, dia berkata bahwa dia masih menyimpannya, kalau begitu aku tidak akan melakukan perubahan apapun pada ruangan ini, dia akan kembali dan aku ingin dia masih mengenali ruanganku ini, aku takut saat dia kembali dia tidak mengenali ruangan ini lagi
lalu aku pun menutup pintu ruanganku, aku yakin dia akan kembali, suatu saat akan kembali dan membuka pintu ruangan ini dengan kunci yang aku berikan...
aku hanya butuh udara segar...............

yang pergi....


“We each have a special something we can get only at a special time of our life. like a small flame. A careful, fortunate few cherish that flame, nurture it, hold it as a torch to light their way. But once that flame goes out, it’s gone forever.” (Sputnik Sweetheart_Haruki Murakami)
ini sudah 28 jam sejak dia pergi, memutuskan pergi....saya masih butuh plester lebih banyak dari yang saya bayangkan...ternyata goresannya lebih dalam.

ini sudah 28 jam lebih beberapa menit sejak dia memutuskan pergi, besok saya akan mencoba bangun, meski mungkin belum mampu melangkah, saya butuh perban untuk membebat luka....

ini sudah 28 jam lebih beberapa menit......

di kaki langit

kaki langit berpijak pada bumi
dan langit terbentang luas seolah tak ada jeda diantaranya.....

layang-layang...
terbang bebas...talinya sudah terulur sudah sampai di ujung

di kaki langit, ada aku wahai layang-layang
jangan koyak, jangan terhempas, karena aku ada di kaki langit

31 Oktober, 2012

akhir-akhir ini hujan


...dan musim hujan pun datang...
bau tanah
basah
langit abu-abu

musim hujan datang, mengetuk jendela kamarku,
sepertinya ada kabar yang ingin disampaikan padaku

kenapa hujan kali ini berjarak?

akhir-akhir ini hujan
menjebakku untuk duduk diam dan membalas sapa rintiknya

"waktu begitu mahal, nikmatilah keterdiaman dan kebisuan ini"

....akhir-akhir ini hujan, seringnya aku mengumpat karena hujan tak memberi kabar
mungkin aku saja yang tak peka jika langit berwarna abu-abu sekarang


dikala hujan menjebakku, 
itu adalah jebakan yang menyenangkan

29 Oktober, 2012

jangan cemburu....

"jangan cemburu" katamu pada suatu sore saat aku sedang menikmati langit abu-abu
"tidak ada merah di langit sore ini" kataku
"jangan cemburu....kau tau aku, jangan cemburui aku" katamu sambil menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam

aku pun tertawa, "untuk apa mencumburui dirimu?" tanyaku
"aku pikir kamu cemburu, akhir-akhir ini kamu seringnya diam" jawabmu

aku pun terdiam, seringnya diam akhir-akhir ini....
"satu-satunya yang harus aku cemburui adalah waktu, waktu yang kau miliki utuh dan waktu yang memiliki dia sepenuhnya"

kau menghembuskan asap rokok, dan imajiku melayang seolah asap itu menyedotku dan membawaku pergi menemui dia, matahari yang ada di timur....

"dia......apa aku sepatutnya cemburu padamu?" tanyamu

"untuk apa?" tanyaku sambil mempermainkan asap rokok yang kau hembuskan

"untuk memikirkan dia yang bahkan mungkin tak menyimpanmu dalam pikirannya, tidak seperti aku"

tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam kepalaku, lalu ada lubang gelap menganga dalam jiwaku....aku merasa kosong

"mungkin.....karena waktu memiliki dirinya, dan dia pun begitu menikmati kisah lalu, tak ada aku sebagai kini"

lalu aku pun menutup mukaku menggunakan kedua tanganku, ingin rasanya saat itu berteriak, agar rantai ragu ini bisa lepas...kau menarik tanganku dan menatap wajahku

"mari bersamaku, aku bisa memberikanmu segalanya, aku akan memberikanmu seribu potret diri untuk mengabadikanmu, aku akan bercerita padamu tentang Rama-Sinta dan memberi akhir yang kau harapkan" katamu

aku tertawa
"aku hanya ingin dia, matahari yang berada di timur, bisakah kau berikan dia padaku?" tanyaku

"kau ini, buang-buang waktu saja menanti dia yang kelak saat dia kembali lupa pada dirimu" ujarmu dengan mata merah

"kita begini saja, dengan cara ini aku bisa menghisap kehidupanmu, selayaknya lintah, kita begini saja, karena kita memiliki malam, jangan meminta lebih" ujarku yang ingin sekali menggenggam tanganmu, tapi aku takut semua unsur-unsur kehidupannku mati...padam, saat menggenggam tanganmu.

"begini saja? jika itu yang kau inginkan..." katamu sambil mengalihkan pandangan

"jangan cemburu..." ujarmu

jika aku pun harus cemburu akan kucemburui waktu, waktu yang menahan dan tertahan, waktu yang kau miliki untuk hidup... 
jika aku harus cemburu aku akan cemburu pada dia, matahari di timur, akan kucemburui dia yang masih lelap dalam lalu.....

"hujan....." kataku sambil berdiri...

tanganku pun terulur, basah saat hujan turun....

matahari, apa kau menitipkan sesuatu yang kutunggu di rinai hujan ini? 
apa hujan ini datang dari kotamu? 
apa ada pesan darimu?

"kau sedang apa?" tanyamu

"mencari sesuatu dibalik rinai hujan ini, mungkin matahariku di timur menitipkan sesuatu" jawabku

"bodoh kau, sejak kapan matahari dan hujan bersahabat?"

aku tersenyum, hujan pun lewat sudah, hanya sebentar dia mampir menyapa, tak ada titipan yang aku dapatkan, mungkin aku melewatkan satu atau lebih rinai yang tak sempat aku sibak rintiknya....

aaahh.......aku menarik napas....semoga hujan berikutnya datang dengan pesan dari matahariku di timur...

"aku mau pulang, sudah reda, sudah ramai jalanan" ujarku

"kapan kita akan bertemu?" tanyamu

"di awal bulan november ini akan ada perayaan di simpang malam, datanglah, seperti biasa kita akan merayakan kebisuan di tengah riuh orang yang kita kenal" jawabku

"apa kau akan datang?" tanyamu lagi

"tentu saja, aku tuan rumah yang mengundangmu" jawabku

"kalo begitu kita tidak akan memiliki kesempatan untuk sekedar bersembunyi dan saling menyapa?" tanyamu dengan raut muka khawatir

"tidak, kali ini aku yang akan menyapamu, aku akan berdiri ditengah-tengah cahaya dan aku akan mendapatimu, sorot matamu yang akan aku temui dan memanduku menyapamu, dengan cara itu tak ada yang tahu pertemuan kita, datanglah di simpang malam.."  jawabku sambil bergegas pergi....

Aku cemburu......dan rasa ini sesak melesak ke dada.....

28 Oktober, 2012

menanti pulang

untuk yang berteduh di timur,

sudah hampir waktunya...
ribuan detik sudah kita tapaki dalam jeda

sudah belajar pada hujan tentang jatuh
pada angin tentang jarak tempuh *

sudah hampir tiba waktunya....

ada saya berdiri di ujung hari 
menantimu pulang

22 Oktober, 2012

bermula..permulaan...

....masih ada yang tersisa dari ruang ini yang mulai kosong....
retakannya kian melebar, menjalar bagai pembuluh darah...tunggu semoga tidak pecah

semua bermula dari...
sebuah kedatangan seperti air bah...banjir dan sekarang sudah surut

permulaan.....
apa ini yang disebut mula-mula?

Tuhan mulanya menciptakan cahaya dalam kegelapan, mengumpulkan debu-debu atmosfir menjadi dunia lalu meledaklah jadi tata surya

Tuhan mulanya menciptakan Adam dan Hawa

semua bermula dari sebuah pertemuan....dan tunggu semoga tidak ada kata sampai jumpa

08 Oktober, 2012

25 tahun

seminggu lagi.....

seperempat abad

06 Oktober, 2012

iya, kamulah jawabannya

kamu bertanya apakah dirimulah jawaban atas percakapnku dengan yang Esa?

saya pernah memiliki sebuah kisah yang indah, kisah itu saya jaga tidak hanya dengan kedua tanganku tapi saya menjaganya juga dengan membangun tembok tinggi... saya hanya takut ada yang mencuri kisah itu...

sekian tahun saya dan kisah itu saling mengsi dan kemudian kami memutuskan untuk bermuara di sebuah pelabuhan kecil membangun dermaga sederhana atas nama perbedaan yang kami yakini...

dan mereka memasuki tembok yang saya bangun, mencuri kisah yang saya miliki, mereka menulis kisah lain kisah yang memaksa saya harus berpisah dengan kisah indah yang saya miliki

.....saat itu mendung, saya dan kisah berbincang-bincang, dan kemudian kami memutuskan berpisah demi mereka, demi yang Esa....

apakah kamu pernah memiliki kehilangan?
sekian tahun saya pun harus berjalan sendiri....sembunyi di goa kecil dan membentuk rajutan hidup saya, karena kemarin rajutan itu rusak....terburai....

dan diantara mimpi-mimpi, diantara logika dan diantara sinisme saya terhadap sebuah hubungan, saya pun menyapa yang Esa, saya hanya ingin berbincang denganNya....

ternyata dia cemburu, ternyata saya begitu angkuh, ternyata saya yang meninggalkaNya hingga Dia pun merenggut kisah saya...tidak Dia tidak merenggutnya...kami lah yang saling melepaskan

...apakah kamu pernah memiliki kehilangan?
saya pernah, dan saya bertanya apakah ruang ini akan kembali dihuni?

saya tidak mau meminta permata, saya hanya menginginkan batu untuk bersandar,
saya tidak ingin memiliki buku termahal tapi yang saya inginkan buku sederhana untuk saya tuliskan kisah lain
saya tidak ingin minuman mewah hanya segelas air putih saja
saya tidak berharap perjalanan yang romantis, hanya merindukan debu dan panas saja

itu yang saya inginkan dan saya utarakan pada yang Esa,

kamu adalah batu itu yang kutemui di tengah perjalananku, kamu buku yang sudah memiliki kisah lain tapi ada lembar kosong yang disediakan untuk aku menulis sesuatu, kamu menyodorkan air putih untukku yang kelelahan memanggul ransel saat kita berjalan, kamu bahkan lebih dari sebuah perjalanan yang panas dan berdebu.....

saya tidak ingin meminta yang lain lagi, karena yang Esa memberiku lebih dari sekedar jawaban...
...dan iya, kamulah jawabannya....

Dia memberikan saya sebuah kesederhanaan yang termaktub dalam dirimu, dan itu lebih dari cukup...
maukah kamu memegang tangan ini? ataukah masih ada jarak disela-sela jarimu yang tidak ingin kamu isi?

lelakiku

05 Oktober, 2012

...kekasihku akan mengirimkan senja

sore tadi senja tidak mampir ke kota kecil ini, mungkin senja tersesat atau ada yang menahan...

beberapa hari ini tidak ada merah di langit, hanya kelabu, abu-abu...
mungkin senja enggan mampir karena dia sudah habis dipetik oleh orang lain...

kekasihku,
dia berkata senja itu bukan saja milikku atau miliknya, ada orang lain yang juga berhak atas senja itu...
dan kekasihku berkata saya tidak akan bisa mengirimkan senja dan bahkan fajar kepadanya, apakah dia menolak senja yang kukirimkan? pertanyaan itu bergaung di kepala

ahhh dia tidak menolak,
dia bukan menolak hanya saja waktu yang berjarak
senja yang membelai dirinya pertama,
fajar yang mecumbunya pertama

dan memang hanya dia yang bisa mengirimkan senja untukku
ketika gelap menyelimutinya
hanya kekasihku yang bisa....

...kekasihku akan mengirimkan senja untukku, 
dia akan mengirimkannya
dan saya tidak akan bertanya dengan cara apa atau bagaimana dia mengirmkan paket senja itu untukku
bukannya saya tidak ingin bertanya, biarkan itu menjadi kejutan, bukankah dia adalah kejutan bagiku?

saya tidak memintanya duduk menemani saya menikmati senja,
saya tidak akan memintanya memetik senja karena saya takut dia akan dikejar orang seperti Sukab yang menjadi buronan, karena seperti katanya senja itu bukan hanya milikku atau miliknya saja

kekasihku akan mengirimkan senja,
saya tidak tau bagaimana cara dia mengirmkannya untukku,
tapi biarkan saja senja itu tetap di langit,
karena sehabis menyapaku dia akan kembali menyapamu, dan disitulah aku menitip kerinduanku

saya tidak akan menunggu tukang pos datang yang mungkin akan mencuri senja yang aku kirim
karena sperti kamu, aku pun memiliki caraku untuk mengirim senjaku padamu...

kekasihku.....
dia akan mengirmkan senja untukku

untuk kekasihku,
untuk lelaki yang akan mengirimkan senjanya untukku

untuk dia

07 September, 2012

bahagia itu berbicara padaku

mari masuklah sebentar, duduklah di kursi lapuk itu....saya mau bercerita...

bahagia itu berbicara padaku

menggema di dinding lapuk, di tanah kering...
bahagia itu berbicara padaku tentang....

mimpi...
mimpi...
mimpi...

silahkan masuk, ada teh hangat diatas meja juga gorengan dingin yang dibekukan waktu
silahkan masuk dan dengarkan, bahagia mau bercerita

bercerita tentang langit yang masih biru, tentang buih samudra, tentang senja yang merah, tentang hujan yang basah.....

silahkan masuk dan dengarkan bahagia ingin bercerita....

....saya hanya tidak bisa berbicara, karena kata telah tersangkut dalam ronga-rongga hidup saya, saya hanya menunggu agar jarak mendekat dan saya mampu memeluknya hingga ada udara yang masuk....

bahagia itu berbicara padaku....pada jarak yang ditunggunya

03 September, 2012

jika saja

jika saja kita berdiri diantara jarak apakah akan sama? apakah akan seiring?
jika saja tak pernah ada lambaian tangan dan pelukan hangat apakah semua akan tetap sama?

saya ingin yang dulu kembali......itu saja

13 Juli, 2012

di bait-bait malam

Di bait-bait malam, apa yang bisa kurangkai di bait-bait malam?
Hanya dengan mengingatmu maka benda langit pun tergelincir menemaniku
melewati malam merangkai sebuah perjamuan denganmu kelak...

entah kapan...