tok..tok...
suara ketukan menggema diantara sepi, Kini berjalan, langkahnya pelan sepelan waktu yang melambat. Ketukan di pintu itu seperti nada-nada yang pernah dia nyanyikan dulu.
tok...tok...tok....
tok..tok
to...kk....
tangan Kini menempel pada daun pintu pondoknya, dia menempelkan telinganya mendengar nada ketukan yang pernah dia kenal..... "Lalu..." bisik Kini....
Kini membuka pintu, dan dia melihat Lalu, berdiri dengan cara yang sama. Lalu tersenyum dan berkata "hai"
Kini diam tertegun, dulu akan ada seraut senyum dan tangan yang terulur melingkar di leher kokoh itu....
"boleh aku masuk?" tanya Lalu yang sepertinya telah melalui perjalanan panjang. tak ada sinar diantara celah matanya, bingkai bening menutupinya, namun Kini masih bisa menangkapnya. dia terlalu kenal Lalu, sangat mengenalnya.
"masuklah...." kata Kini, namun pintu tidak dapat terbuka lebar....
"ada Sekarang yang sedang duduk..." ujar Kini...
Lalu masuk dan mendapati sesosok bayangan duduk didepan sebuah meja bulat berkaki tiga. Sekarang duduk ditempat yang pernah ditempati Lalu....
"Dia......?" tanya Lalu
"Ya..." jawab Kini
"kenapa bayangan?" tanya Lalu...
"entahlah..." jawab Kini lirih.
ada pusaran-pusaran dulu yang masih menggenang dalam biasan bayangan. lebur dalam api dulu, dan merayapi sel-sel otak. penuh, kotak itu terbuka, bagai putaran film, kisah Kini dan Lalu tak berjarak...Sekarang hanya diam, tak tersentuh oleh kisah Lalu dan Kini, entah apa yang dipikirkan oleh Sekarang, hanya fisik yang yang ada ditempat, sedang pikirannya melayang....memang Sekarang adalah Bayangan.....
"sampai kapan?" tanya Lalu
diam....ada sedikit titik yang menggenang di mata kecil Kini
"mari pergi...bersamaku, kita hidupkan dulu.." ucap Lalu yang menggandeng tangan Kini...
Kini menatap dalam mata yang pernah menundukkan hatinya, mata yang membuat matahari enggan tuk membakarnya....
"aku akan menunggu Sekarang....." jawab Kini
Aku akan menunggu Sekarang sampai dia berwujud, tak lagi serupa bayangan tak lagi mengambang. aku akan menunggu Sekarang hingga dia mampu mengangkat kepalanya dan melihatku ada didepannya...aku akan menunggunya......
"aku pun akan menunggu mu....." kata Lalu sambil berjalan keluar...
Kini duduk dihadapan Sekarang......
"lihat aku Sekarang, ada aku dihadapanmu, bagaimana aku bisa memilikimu, fisikmu tak berwujud, aku butuh ingatanmu untuk mengingatku sebelum waktuku habis..." isak Kini.
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
03 Mei, 2012
05 April, 2012
Sepi...ternyata......
sepi itu serupa serpihan-serpihan debu, tidak berarti namun
meninggalkan bekas. bekas kotor di antara mesin motorku, tapi hujan
sudah membasuhnya, jadi saya tidak perlu khawatir.
sepi itu menyolok mata, membuat mataku merah dan saya harus mengucek-ucek mata dengan tangan saya yang juga kotor karena debu, ahh sepi dan debu....mata saya jadi merah khan...
waktu, hup hup hup...meloncati waktu dan ruang, tertawa dan bercerita, mimpi yang mengawang...ternyata semua habis saat gelap datang...
duduk sendiri, menunggu pesanan sop ayam hangat dari warung sederhana yang dibungkus plastik bening, yang sebenarnya turut andil dalam kerusakan bumi. pulang ditemani gerimis yang curang karena selalu datang rombongan...ahhh basah, padahal ini satu-satunya jeans yang tersisa, jeans yang lain teronggok di sudut kamar kos menunggu untuk segera dicuci...semoga besok berjumpa matahari, cucian menunggu untuk dikeringkan...
Damn!! hampir saja saya menabrak mobil sedan didepan karena dia atau mungkin saya yang sedang tidak fokus..yaah hujan begini, wajar jika semua ingin bergegas pulang, untuk berbaring dan berbalut selimut hangat, atau mungkin rebah dalam pelukan seseorang. sopir mobil sedan itu keluar, mengecek keadaan mobilnya dan saya sudah menyiapkan tameng jaga-jaga siapa tahu kena omelan...dan ya Tuhaannn demi apa Kau menciptakan makhluk sebening itu....
laki-laki itu tersenyum, meminta maaf dan menyodorkan kartu namanya, mungkin dia berpikir ada luka yang membekas atau berbekas entah di motor atau badan saya....setelah berbasa-basi dan berjabat tangan basa-basi, kami: saya dan dia pun pulang, eh entahlah apakah dia pulang atau mungkin dalam perjalanan pergi ke sebuah tempat....apapun itu, ketika sampai patutlah itu disebut pulang
10.45 pm
memanaskan lagi sop ayam itu, mengecek email, facebook, twitter dan segala hal-hal printilan....mengeluarkan sebuah buku karya Haruki Murakami dan mencoba menjelajahi rentetan kalimat-kalimat tentang Sumire, K, dan Miu.....
ternyata hidup itu sangat menoton, saya berbicara dengan teman yang sama, pergi menghabiskan waktu di komunitas yang sama, merindukan orang yang sama, dengan cara yang sama.....sama......hidup....
dan kemudian saya menutup hari itu dengan cara yang sama.....menutup mata, lalu tenggelam dalam sepi.....ternyata....sepi
Jogja, April 2012
sepi itu menyolok mata, membuat mataku merah dan saya harus mengucek-ucek mata dengan tangan saya yang juga kotor karena debu, ahh sepi dan debu....mata saya jadi merah khan...
waktu, hup hup hup...meloncati waktu dan ruang, tertawa dan bercerita, mimpi yang mengawang...ternyata semua habis saat gelap datang...
duduk sendiri, menunggu pesanan sop ayam hangat dari warung sederhana yang dibungkus plastik bening, yang sebenarnya turut andil dalam kerusakan bumi. pulang ditemani gerimis yang curang karena selalu datang rombongan...ahhh basah, padahal ini satu-satunya jeans yang tersisa, jeans yang lain teronggok di sudut kamar kos menunggu untuk segera dicuci...semoga besok berjumpa matahari, cucian menunggu untuk dikeringkan...
Damn!! hampir saja saya menabrak mobil sedan didepan karena dia atau mungkin saya yang sedang tidak fokus..yaah hujan begini, wajar jika semua ingin bergegas pulang, untuk berbaring dan berbalut selimut hangat, atau mungkin rebah dalam pelukan seseorang. sopir mobil sedan itu keluar, mengecek keadaan mobilnya dan saya sudah menyiapkan tameng jaga-jaga siapa tahu kena omelan...dan ya Tuhaannn demi apa Kau menciptakan makhluk sebening itu....
laki-laki itu tersenyum, meminta maaf dan menyodorkan kartu namanya, mungkin dia berpikir ada luka yang membekas atau berbekas entah di motor atau badan saya....setelah berbasa-basi dan berjabat tangan basa-basi, kami: saya dan dia pun pulang, eh entahlah apakah dia pulang atau mungkin dalam perjalanan pergi ke sebuah tempat....apapun itu, ketika sampai patutlah itu disebut pulang
10.45 pm
memanaskan lagi sop ayam itu, mengecek email, facebook, twitter dan segala hal-hal printilan....mengeluarkan sebuah buku karya Haruki Murakami dan mencoba menjelajahi rentetan kalimat-kalimat tentang Sumire, K, dan Miu.....
ternyata hidup itu sangat menoton, saya berbicara dengan teman yang sama, pergi menghabiskan waktu di komunitas yang sama, merindukan orang yang sama, dengan cara yang sama.....sama......hidup....
dan kemudian saya menutup hari itu dengan cara yang sama.....menutup mata, lalu tenggelam dalam sepi.....ternyata....sepi
Jogja, April 2012
05 Maret, 2012
aku menyalakan tungku
dingin bahkan kaku, sudah berapa lama kita terdiam dalam jarak
mencerna waktu dan kemudian mendiamkannya...
apa aku harus melihatnya karam, terhantam oleh tanya dan menebaknya?
sudah, kamu sudah dalam pondokku, biarkan aku menyalakan tungku
agar hangat bisa kembali merayap dan kita bisa merapal rindu
mencerna waktu dan kemudian mendiamkannya...
apa aku harus melihatnya karam, terhantam oleh tanya dan menebaknya?
sudah, kamu sudah dalam pondokku, biarkan aku menyalakan tungku
agar hangat bisa kembali merayap dan kita bisa merapal rindu
21 Februari, 2012
sebut satu kata.....
sebut satu kata, ucapkan kata itu agar aku bisa menutup mata dan menyimpannya di balik kelopakku saat gelap mulai merayap
sebut sata kata, karena ada jarak ada ruang ada pemisah diantara diammu, diantara teriakku, aahh bagaimana kau bisa mengucapkan satu kata karena mungkin itu tertahan di kerongkonganmu
sudahlah, seperti dandelion yang mengirim kelopaknya pada kekasih yang didamba, seperti dia; dandelion yang mengirim pesan rindu pada kekasih agar dia kembali, seperti yaa seperti dandelion yang mengucap kata dalam bisu
sebut satu kata, dan kemudian membisulah.....
*terinspirasi dari tulisan mba widi http://widianawidie.wordpress.com/2012/02/17/dandelion-and-the-meeting-of-two-souls/
sebut sata kata, karena ada jarak ada ruang ada pemisah diantara diammu, diantara teriakku, aahh bagaimana kau bisa mengucapkan satu kata karena mungkin itu tertahan di kerongkonganmu
sudahlah, seperti dandelion yang mengirim kelopaknya pada kekasih yang didamba, seperti dia; dandelion yang mengirim pesan rindu pada kekasih agar dia kembali, seperti yaa seperti dandelion yang mengucap kata dalam bisu
sebut satu kata, dan kemudian membisulah.....
*terinspirasi dari tulisan mba widi http://widianawidie.wordpress.com/2012/02/17/dandelion-and-the-meeting-of-two-souls/
08 Januari, 2012
dalam sunyi
yaa, aku merindukanmu dalam sunyi karna suaraku hilang dalam batas jarak. aku merindukanmu dalam sunyi karena ingatankulah yang mampu menjangkau di batas itu... aku merindukanmu, dan hanya mampu menyimpan kepingan-kepingannya dan menyusunnya, ada yang hilang..suaramu tak sampai, senyummu tersaput kabut....aku merindukanmu... melompati setiap detik waktu dan melihatnya jatuh lalu hilang..hilang.... lihat, aku menunggu, menunggu dan merindukanmu dalam sunyi...
yaa, aku merindukanmu dalam sunyi....
yaa, aku merindukanmu dalam sunyi....
01 Januari, 2012
perempuan yang menunggu
gelap merambat, merayap dan menggerayang dipunggung tegak perempuan yang menunggu...
menunggu entah hujan, entah badai atau mungkin panas matahari....
perempuan yang menunggu dalam tanya...memupuk sebuah harap disudut ruang gelap yang pernah hancur
waktu telah membenahinya...ahh tidak waktu belum membenahinya...tak ada cukup waktu yang bisa membenahinya dan perempuan itu hanya diam disudut ruangan yang masih berantakan itu...masih hancur itu....
perempuan yang menunggu, entah apa atau siapa yang dia tunggu...
dia melihat kembali kenangan yang terserak...dan ada yang menghujam, dingin melesak, mendesak dan menarik udara disekitarnya
dan bayangan itu muncul...sosok yang telah memasuki ruang-ruang yang berantakan itu
diam....perempuan yang menunggu itu dan sosok itu hanya diam...terdiam
karena aku tidak ada didalammu....karena aku tidak ada didirimu, disini, bahkan tidak ada aku dibenakmu
dan perempuan yang menunggu itu meneteskan embun dari kelopak mata sendunya dalam sepi......
menunggu entah hujan, entah badai atau mungkin panas matahari....
perempuan yang menunggu dalam tanya...memupuk sebuah harap disudut ruang gelap yang pernah hancur
waktu telah membenahinya...ahh tidak waktu belum membenahinya...tak ada cukup waktu yang bisa membenahinya dan perempuan itu hanya diam disudut ruangan yang masih berantakan itu...masih hancur itu....
perempuan yang menunggu, entah apa atau siapa yang dia tunggu...
dia melihat kembali kenangan yang terserak...dan ada yang menghujam, dingin melesak, mendesak dan menarik udara disekitarnya
dan bayangan itu muncul...sosok yang telah memasuki ruang-ruang yang berantakan itu
diam....perempuan yang menunggu itu dan sosok itu hanya diam...terdiam
karena aku tidak ada didalammu....karena aku tidak ada didirimu, disini, bahkan tidak ada aku dibenakmu
dan perempuan yang menunggu itu meneteskan embun dari kelopak mata sendunya dalam sepi......
12 Desember, 2011
tidak tembok yang terlalu tinggi dan tidak ada jarak yang terlampau jauh
siapa yang bilang tembok itu terlalu tinggi dan sulit untuk diruntuhkan?
tidak, kamu pasti bisa memanjat tembok itu, sudahlah jangan berpikir untuk meruntuhkannya, biarkan saja tembok itu berdiri kokoh, karena kelak itu akan roboh dengan sendirinya....
tembok itu akan roboh dengan rembesan-rembasan air, hantaman-hantaman badai yang dikirimkan oleh keteguhan waktu agar kamu bisa melihat ada ruang lain diluar sana untuk kau datangi, untuk kau singgahi, untuk kau tinggali...
tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk dirimu, karena dirimu tidak sekecil itu....lihatlah sekelilingnya akan kau temukan celah untuk kau pijak dan kau akan dapati dirimu ada diatas tembok itu........
untuk jarak, mengapa kau hanya diam dan melihat jarak antara dirimu dan jarak itu....
tak ada jarak yang terlampau jauh, terabas saja.....lewati saja...dan larilah hingga napas mu habis dan kau mampu menghisap kembali sari-sari dunia yang baru.....
sudahlah...biarkan aku membantumu memanjat tembok itu, atau biarkan tanganku turut serta membuat sebuah pijakan untuk dirimu agar kau bisa memanjat tembok itu....jangan kau hancurkan karehna disitu ada kamu...ada kamu, dia dan mereka....ada amarahmu, ada tawamu...ditembok situ ada kepingan-kepingan dirimu..jangan kau hancurkan
lalu, mari kita berlari bersama menerabas jarak dan kemudian teriak.......
tidak, kamu pasti bisa memanjat tembok itu, sudahlah jangan berpikir untuk meruntuhkannya, biarkan saja tembok itu berdiri kokoh, karena kelak itu akan roboh dengan sendirinya....
tembok itu akan roboh dengan rembesan-rembasan air, hantaman-hantaman badai yang dikirimkan oleh keteguhan waktu agar kamu bisa melihat ada ruang lain diluar sana untuk kau datangi, untuk kau singgahi, untuk kau tinggali...
tidak ada tembok yang terlalu tinggi untuk dirimu, karena dirimu tidak sekecil itu....lihatlah sekelilingnya akan kau temukan celah untuk kau pijak dan kau akan dapati dirimu ada diatas tembok itu........
untuk jarak, mengapa kau hanya diam dan melihat jarak antara dirimu dan jarak itu....
tak ada jarak yang terlampau jauh, terabas saja.....lewati saja...dan larilah hingga napas mu habis dan kau mampu menghisap kembali sari-sari dunia yang baru.....
sudahlah...biarkan aku membantumu memanjat tembok itu, atau biarkan tanganku turut serta membuat sebuah pijakan untuk dirimu agar kau bisa memanjat tembok itu....jangan kau hancurkan karehna disitu ada kamu...ada kamu, dia dan mereka....ada amarahmu, ada tawamu...ditembok situ ada kepingan-kepingan dirimu..jangan kau hancurkan
lalu, mari kita berlari bersama menerabas jarak dan kemudian teriak.......
biarkan aku masuk
sudah tidak usah takut dengan gelap, karena memang sudah waktunya malam datang. biarkan aku masuk dan merapihkan tempat tidurmu yang kotor dan berdebu. biarkan aku masuk dan menyalakan lilin di atas meja agar kau bisa melihat terang lagi.
sudah tidak usah takut, matahari akan datang esok lagi, jadi biarkan aku masuk dan membantumu membenahi ruangan-ruanganmu.
jangan takut, tetaplah disini, aku akan membantumu membenahi semua...mari kita mulai dari awal lagi....
sudah tidak usah takut, matahari akan datang esok lagi, jadi biarkan aku masuk dan membantumu membenahi ruangan-ruanganmu.
jangan takut, tetaplah disini, aku akan membantumu membenahi semua...mari kita mulai dari awal lagi....
24 November, 2011
...............
menatap kamu yang berbaring disisiku, matamu yang terpejam dan aku memintamu untuk membukanya agar aku bisa menatap rongga-rongga kehidupanmu, aku ingin memasukimu lebih dalam
menjelajah setiap jengkal tubuhmu dan aku menyukainya,
kita berbincang tentang luka dan sepi,
tentang lalu dan kini
aku tak ingin melepas genggamanmu
dan jarak mengajarkan aku bagaimana merindumu..............
menjelajah setiap jengkal tubuhmu dan aku menyukainya,
kita berbincang tentang luka dan sepi,
tentang lalu dan kini
aku tak ingin melepas genggamanmu
dan jarak mengajarkan aku bagaimana merindumu..............
15 November, 2011
bukankah gelap itu biasa
bukankah gelap itu biasa, katamu pada aku di sudut jalan
gelap itu kita bisa berbisik, tak mendesah
kita bisa bermain tanpa bayang
dan kita bisa bersembunyi disela-sela gelap
bukankah gelap itu biasa saja
gelap itu kita bisa berbisik, tak mendesah
kita bisa bermain tanpa bayang
dan kita bisa bersembunyi disela-sela gelap
bukankah gelap itu biasa saja
06 November, 2011
kita berbincang kemarin
kita berbincang kemarin, tentang kamu, tentang aku...kita berbincang kemarin
aku mendengar suaramu, memejamkan mataku membayangkan aku berada didekatmu, dan menatap wajahmu....
kita berbincang kemarin, bertanya tentang "apa kabarmu?" dan mencoba menerka esok harinya.....
butuh waktu..kita hanya butuh waktu...
kita berbincang kemarin, aku dan kamu.....
aku mendengar suaramu, memejamkan mataku membayangkan aku berada didekatmu, dan menatap wajahmu....
kita berbincang kemarin, bertanya tentang "apa kabarmu?" dan mencoba menerka esok harinya.....
butuh waktu..kita hanya butuh waktu...
kita berbincang kemarin, aku dan kamu.....
04 November, 2011
silahkan masuk
dia masih berdiri diluar, mengetuk pintu pondokku
aku hanya bisa diam dan duduk didepan meja bulat yang berada di ruang tengah pondokku.
ketukan di pintu itu aku dengar lagi, kali ini tak sekeras yang pertama, namun cukup membuat aku terjaga
aku beranjak dari tempat dudukku, mendekati pintu pondokku, suara ketukan itu masih terdengar sayup...
dibalik pintu aku mendengar keinginannya untuk masuk, apa yang harus aku lakukan? siapkah aku mengijinkan orang lain masuk ke pondokku?
"aku rindu angin, hanya angin yang berhak masuk ke pondokku"
aku melihat kesekeliling ruangan pondokku, berantakan, penuh cerita masa lalu....
tanganku meraih gagang pintu pondokku, dan aku pun membukanya....
"silahkan masuk" kataku pada dia yang telah berdiri diluar sana
maaf ruangannya masih berantakan, aku tidak tau bagaimana harus merapihkannya, bukan tidak tau caranya hanya tidak tau harus mulai darimana...
kamu boleh masuk dan menetap disini, temani aku...silahkan masuk, tapi maaf kursi dan meja itu biarkan saja disitu, disitu tempat angin pernah duduk, kamu hanya perlu kursi dan meja yang baru saja....
silahkan masuk, maaf ruangannya masih berantakan.....
26 Oktober, 2011
tok..tok...tok
ada yang mengetuk pintu pondokku yang baru saja selesai kupasang, setelah kemarin kuhancurkan. kepalaku tegak, awas dan mencoba mendengar jelas suara di ketukan pintu itu.
itu bukan angin yang aku tunggu kedatangannya, angin tidak pernah mengetuk pintu seperti itu.
tok...tok...tok...
dan suara ketukan itu terdengar lagi, aku masih duduk diam didepan meja yang kosong. "itu bukan angin" kataku meyakinkan diriku.
tok...tok...tok...
suara itu masih saja terdengar, "boleh aku masuk?" tanya suara diluar sana. aku beranjakdari kursi kayuku dan berjalan kearah pintu.
tok...tok...tok...
suara itu terdengar lagi, dan aku hanya berdiri dibalik pintu itu.....
itu bukan angin yang aku tunggu kedatangannya, angin tidak pernah mengetuk pintu seperti itu.
tok...tok...tok...
dan suara ketukan itu terdengar lagi, aku masih duduk diam didepan meja yang kosong. "itu bukan angin" kataku meyakinkan diriku.
tok...tok...tok...
suara itu masih saja terdengar, "boleh aku masuk?" tanya suara diluar sana. aku beranjakdari kursi kayuku dan berjalan kearah pintu.
tok...tok...tok...
suara itu terdengar lagi, dan aku hanya berdiri dibalik pintu itu.....
14 Oktober, 2011
jarak
jarak itu hanya sepanjang lebar kakimu ketika kamu melangkah, dan mungkin hanya sepanjang tanganmu meraih cangkir kopimu, juga sebesar celah jari-jarimu atau mungkin hanya selebar telapak tanganmu saja saat kamu melambaikannya...
jarak itu hanya garis tipis serupa coretan-coretan dikertas gambarmu atau batas diantara tombol spasi dan enter di keyboard komputer
jarak itu........
distance means nothing as long as we still look at the same moon upon the sky
jarak itu hanya garis tipis serupa coretan-coretan dikertas gambarmu atau batas diantara tombol spasi dan enter di keyboard komputer
jarak itu........
distance means nothing as long as we still look at the same moon upon the sky
12 Oktober, 2011
aku bukan pelacur
di pojok-pojok itu duduk seorang wanita dengan sebatang rokok ditangannya. mata wanita itu nyalang menatap jalan yang sepi, dan bibirnya merah mengulum batang rokok itu
"aku bukan pelacur" katanya
wanita itu duduk menyilangkan kakinya, bajunya sedikit memberikan ruang bagi angin untuk membelai pahanya yang sedikit berkeriput
"aku bukan pelacur" kata wanita itu
dan dengan gelisah, wanita itu menyalakan sebatang rokok lagi...bibirnya mencecap, merah dan ranum seperti menanti untuk dikulum
di pojok-pojok itu, wanita itu duduk, santai dengan rokoknya
"jika kau bukan pelacur lalu kenapa kau ada disini?" tanya penikmat malam
"aku menunggu laki-laki yang mampu membinasakan kebinalanku" ucap wanita itu
"kebinalan yang membuat kamu orang tidak lagi memakai topeng busuk itu" ujarnya sambil menyalakan sebatang rokok lagi
"aku bukan pelacur" katanya
wanita itu duduk menyilangkan kakinya, bajunya sedikit memberikan ruang bagi angin untuk membelai pahanya yang sedikit berkeriput
"aku bukan pelacur" kata wanita itu
dan dengan gelisah, wanita itu menyalakan sebatang rokok lagi...bibirnya mencecap, merah dan ranum seperti menanti untuk dikulum
di pojok-pojok itu, wanita itu duduk, santai dengan rokoknya
"jika kau bukan pelacur lalu kenapa kau ada disini?" tanya penikmat malam
"aku menunggu laki-laki yang mampu membinasakan kebinalanku" ucap wanita itu
"kebinalan yang membuat kamu orang tidak lagi memakai topeng busuk itu" ujarnya sambil menyalakan sebatang rokok lagi
03 Oktober, 2011
embun yang kau taruh di kelopak mataku
embun yang kau taruh di kelopak mataku, sudah menjadi titik, mengalir dan menetes diantara sudut mataku, menggantung diujung bulu mata yang rapuh. menguap dan menghilang hari itu juga
embun yang kau sisipkan diantara kedua kelopak mataku, tidak akan terlihat siang ini, sudah menguap dengan senyum yang coba aku ukir meskipun tidak sempurna...
embun yang kau taruh diantara kedua kelopak mataku sudah kering, mengering seperti daun yang layu seiring panas matahari membakar....
embun yang kau sisipkan diantara kedua kelopak mataku, tidak akan terlihat siang ini, sudah menguap dengan senyum yang coba aku ukir meskipun tidak sempurna...
embun yang kau taruh diantara kedua kelopak mataku sudah kering, mengering seperti daun yang layu seiring panas matahari membakar....
30 September, 2011
titik tak berjarak
titik tak berjarak
tidak seperti jarak diantara celah-celah jarimu yang dihubungkan oleh sebatang rokok
tidak seperti jarak diantara bibir yang kau pakai untuk mencicip kafein
tidak seperti jarak diantara langkah-langkahmu
karena titik tidak berjarak
tak ada jarak diantara titik
karena titik hanyalah titik
dan titik tak berjarak
tidak seperti jarak diantara celah-celah jarimu yang dihubungkan oleh sebatang rokok
tidak seperti jarak diantara bibir yang kau pakai untuk mencicip kafein
tidak seperti jarak diantara langkah-langkahmu
karena titik tidak berjarak
tak ada jarak diantara titik
karena titik hanyalah titik
dan titik tak berjarak
24 September, 2011
.................
diantara koma dan titik, atau diantara tanda seru dan tanda tanya, mungkin ada jeda diantara kalimat aktif atau majemuk, diantara diam dan sepi, dan diantara absurditas.........
diantara tikungan
diantara genggaman
diantara seruan
ada tanya yang terangkum dalam harap
diantara tikungan
diantara genggaman
diantara seruan
ada tanya yang terangkum dalam harap
31 Agustus, 2011
di luar sedang terik ayo kita main
diluar ramai sekali, ada apa gerangan?
aku hanya bisa melihat dari pondokku saja, banyak orang, dengan warna yang berbeda dan bahasa yang berbeda..mereka sangat asing, asing sekali
mereka sedang apa?kenapa begitu ceria? kataku dalam hati
ingin rasanya aku ikut dalam keramaian itu tapi aku terpasung dalam pondokku, "aahh tidak boleh mengeluh, aku yang membuat diriku ada dalam pasungan ini" ujarku
dan aku kemudian menata kembali pondokku, "angin akan datang dan semua harus seperti sedia kala" kataku sambil memungut serpihan-serpihan debu dan menaruhnya dalam kotak kayu
suara-suara ramai itu semakin membuatku penasaran, dan mendorongku membuka pintu pondokku, "tak apalah kulihat sebentar saja apa yang sedang mereka tertawakan" dan tanganku pun memutar kunci pondok yang sudah usang dan membuka pintunya
"aahh silau sekali, panasnya membakar mengapa mereka sangat gembira dengan cuaca siang ini?" ujarku heran.
dan aku pun berdiri disamping pintu pondokku yang hanya terbuka sedikit saja, aku melihat mereka tertawa, dan melihat mereka berbincang, aku tersenyum, rasanya sudah lama sekali aku tidak seperti mereka, sudah berapa lama aku berada dalam remang pondok ini?entahlah aku sudah lupa dan tidak bisa menghitung butir-butir detik yang aku lewati.
mataku terpaku pada satu sosok yang dengan caranya mampu membuat kawan-kawannya tertawa, aku pun ikut tertawa melihat tingkahnya...aku larut dalam suasana itu...
tiba-tiba aku tersadar kalau aku harus bergegas masuk ke pondok dan membereskan semuanya, angin akan datang dan aku tidak mau dia melihat pondok ini berantakan. segera kututup pintu pondokku, namun tak lama ada yang mengetuknya, ragu aku untuk membukanya...tawa dan ketukan itu seakan bersahut-sahutan..berisik...aku pun membuka sedikit pintu pondokku
"hai" sapa orang asing itu
aku terdiam, dia adalah orang yang aku perhatikan sejak tadi, dia orang yang membuatku tersenyum melihat tingkahnya
"aku melihatmu berdiri sendirian, kenapa tidak ikut bermain dengan kami?" tanyamu
aku menggeleng, "maaf tidak bisa" kataku
"diluar sedang terik ayo kita main" katamu sambil mengulurkan tanganmu
aku terkesiap, aku gugup, dan aku mundur beberapa langkah
"mengapa?" tanyamu
"tidak apa-apa" kataku, "aku ingin berada disini dan merapihkan pondokku, angin akan datang" kataku sambil menutup pintu
"tunggu" katamu setengah berteriak
"angin tidak akan datang, di luar sedang terik ayo kita main" katamu sambil menarik tanganku
Angin tidak akan datang karena dia memang tidak akan pernah datang
diluar sedang terik, apakah aku masih bisa bermain dengan mereka?
aku hanya bisa melihat dari pondokku saja, banyak orang, dengan warna yang berbeda dan bahasa yang berbeda..mereka sangat asing, asing sekali
mereka sedang apa?kenapa begitu ceria? kataku dalam hati
ingin rasanya aku ikut dalam keramaian itu tapi aku terpasung dalam pondokku, "aahh tidak boleh mengeluh, aku yang membuat diriku ada dalam pasungan ini" ujarku
dan aku kemudian menata kembali pondokku, "angin akan datang dan semua harus seperti sedia kala" kataku sambil memungut serpihan-serpihan debu dan menaruhnya dalam kotak kayu
suara-suara ramai itu semakin membuatku penasaran, dan mendorongku membuka pintu pondokku, "tak apalah kulihat sebentar saja apa yang sedang mereka tertawakan" dan tanganku pun memutar kunci pondok yang sudah usang dan membuka pintunya
"aahh silau sekali, panasnya membakar mengapa mereka sangat gembira dengan cuaca siang ini?" ujarku heran.
dan aku pun berdiri disamping pintu pondokku yang hanya terbuka sedikit saja, aku melihat mereka tertawa, dan melihat mereka berbincang, aku tersenyum, rasanya sudah lama sekali aku tidak seperti mereka, sudah berapa lama aku berada dalam remang pondok ini?entahlah aku sudah lupa dan tidak bisa menghitung butir-butir detik yang aku lewati.
mataku terpaku pada satu sosok yang dengan caranya mampu membuat kawan-kawannya tertawa, aku pun ikut tertawa melihat tingkahnya...aku larut dalam suasana itu...
tiba-tiba aku tersadar kalau aku harus bergegas masuk ke pondok dan membereskan semuanya, angin akan datang dan aku tidak mau dia melihat pondok ini berantakan. segera kututup pintu pondokku, namun tak lama ada yang mengetuknya, ragu aku untuk membukanya...tawa dan ketukan itu seakan bersahut-sahutan..berisik...aku pun membuka sedikit pintu pondokku
"hai" sapa orang asing itu
aku terdiam, dia adalah orang yang aku perhatikan sejak tadi, dia orang yang membuatku tersenyum melihat tingkahnya
"aku melihatmu berdiri sendirian, kenapa tidak ikut bermain dengan kami?" tanyamu
aku menggeleng, "maaf tidak bisa" kataku"diluar sedang terik ayo kita main" katamu sambil mengulurkan tanganmu
aku terkesiap, aku gugup, dan aku mundur beberapa langkah
"mengapa?" tanyamu
"tidak apa-apa" kataku, "aku ingin berada disini dan merapihkan pondokku, angin akan datang" kataku sambil menutup pintu
"tunggu" katamu setengah berteriak
"angin tidak akan datang, di luar sedang terik ayo kita main" katamu sambil menarik tanganku
Angin tidak akan datang karena dia memang tidak akan pernah datang
diluar sedang terik, apakah aku masih bisa bermain dengan mereka?
30 Agustus, 2011
serpihan-serpihan itu hilang
tidak ada yang berbekas, atau membekas bahkan tidak ada yang tersisa atau disisakan
senja tak tersisa, tak berjejak di birunya langit dan awan yang berarak meski tak putih hanya menggantung angkuh
tidak ada yang bisa dilihat, serpihan-serpihan itu sudah hilang, lenyap tak berbekas
serpihan itu sudah tidak disini lagi, tak ada sisanya, berserak dalam udara yang tak mampu dilihat
serpihan itu rindu
serpihan itu rindu yang kini hilang
senja tak tersisa, tak berjejak di birunya langit dan awan yang berarak meski tak putih hanya menggantung angkuh
tidak ada yang bisa dilihat, serpihan-serpihan itu sudah hilang, lenyap tak berbekas
serpihan itu sudah tidak disini lagi, tak ada sisanya, berserak dalam udara yang tak mampu dilihat
serpihan itu rindu
serpihan itu rindu yang kini hilang
Langganan:
Postingan (Atom)